Selasa, 10 Juli 2007

Festival Teater Kampus IKIPN Singaraja Mengolah Puisi dalam Panggung Mahasiswa

Karena puisi, seorang lelaki dan seorang perempuan yang mungkin baru pertama kali bertemu akhirnya merasa begitu akrab. Merasa punya kemiripan masa silam dan masa romantis yang memiliki hubungan sebab-akibat begitu lekat. Karena puisi, sepasang lelaki-perempuan merasa punya nasib yang sama, kesedihan, rasa geram, kebencian, ketakutan dan pemberontakan yang sama kepada tirani penindas yang serupa di negeri yang berwajah lembut bagai bayi, bertangan halus dan bersih, seakan-akan terbebas dari dosa.

BEGITU esensi dari naskah teater "Orang Malam", sebuah lakon pendek karya Soni Farid Maulana yang dipentaskan dengan cukup berhasil oleh Teater Kulit dalam Pestival Teater Kampus di Aula IKIP Negeri Singaraja, Jumat (26/9) malam. Keberhasilan grup teater dari mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia Fakultas Seni dan Bahasa IKIPN Singaraja ini terlihat dalam interpretasi naskah, terutama dalam pencernaan kalimat-kalimat puitis untuk dipanggungkan menjadi tontonan yang memikat.

Soni Farid Maulana, salah seorang sastrawan Indonesia terkemuka saat ini, memang dikenal sebagai penulis naskah drama yang sarat dengan dialog-dialog puitis karena ia sendiri kerap juga menulis puisi dan kritikus sastra. Kalimat-kalimat Soni bukanlah dialog realis yang bisa dicerna dalam sekali dengar sehingga memerlukan penataan yang serius dalam olah voKal dan membutuhkan dukungan serius pula dari gesture, mimik dan bloking yang mamadai.

Kisah ini dimulai saat Kimung (lelaki yang diperankan Sumita Adnyana) mengabarkan penantian 750 tahun di sebuah taman kota. Sebuah kesepian yang panjang. Malam selalu bersambung malam, dingin dan sepi bagai sebutir batu di dasar kali. Ia ingat seorang perempuan yang sempat ditemui dan kemudian berpisah pada suatu saat sehabis kerusuhan. Perempuan itu bernama Dirah (diperankan Wiliani), seseorang yang kelak diketahui sempat menjadi korban sebuah tirani. Masuk ke taman kota, mereka bertemu di taman kota itu. Lalu saling mengingatkan dengan puisi-puisi tentang cinta, kesepian, penindasan, kerinduan, yang dulu pernah mereka tulis. Keduanya bercerita tentang masa lalu yang pekat oleh bau pesing penjara, desing peluru, lemparan batu, aroma darah perkosaan dan peristiwa pahit di sebuah negeri yang berwajah bersih. Sebuah negeri yang mereka huni sejak 750 tahun lalu.

Kekuatan puisi dalam naskah Soni dibangun dalam kalimat yang penuh ide dan perenungan filosofis. Dan sutradara Ayu Supendi tampaknya sudah sangat berupaya mengolah kekuatan puisi untuk diperkenalkan dalam tata panggung yang memikat. Meski pada awalnya permainan Kimung (lelaki yang diperankan Sumita Adnyana) dan Dirah (perempuan yang diperankan Wiliani) tampak hambar dengan dialog (atau monolog) yang kurang menggigit. Namun setengah pementasan terakhir, dua pemain utama ini menampilkan pementasan puisi yang memukau.

Klimaks dari keberhasilan dua pemain ini tampak pada adegan penutup. Kimung dan Dirah saling menggapai, sebuah peristiwa puitik ketika kerinduan hendak ditumpahkan dari kubang penantian beratus-ratus tahun. Adegan ini dibangun ketika Dirah merangkak dari bawah panggung dan Kimung tergerus dari atas, lalu keduanya bertemu di bibir panggung. Pementasan ditutup ketika Dirah tak benar-benar sampai di atas dan Kimung tak sungguh-sungguh terjerumus ke bawah. Cukup mengesankan.

Pengetahuan Dasar
IKIPN Singaraja cukup beruntung memiliki Hardiman, dramawan dosen yang intens melakukan kegiatan pelatihan dasar teater kepada mahasiswanya. Sebagian besar pelatihan dasar teater yang diajarkan Hardiman inilah yang dijadikan modal bagi kelompok teater mahasiswa yang ikut meramaikan Festival Teater Kampus Seribu Jendela ini. Terdapat enam grup yang dipentaskan sejak Senin (22/9) hingga Minggu (28/9) ini, yang seluruhnya menampilkan pementasan yang hanya mengandalkan spekulasi dramatik, tanpa mempertimbangkan unsure-unsur penting dalam teater.

Hanya Teater Kulit tampaknya memiliki pengalaman yang lebih banyak dalam olah panggung ketimbang grup lainnya. Namun karena naskahnya cukup berat untuk ukuran kelompok yang hanya sekali-kali saja melakukan pementasan, toh terdapat sejumlah kelemahan, terutama dalam bloking yang melulu vertikal -- meminjam istilah Hardiman -- sehingga ceritanya nyaris terdengar tanpa konflik. Tak ada upaya membangun fokus ketika terjadi dialog antara Kimung dan Dirah, misalnya dengan mendekatkan kedua tokohnya dalam adegan teatrikal yang mengental, membulat dan padu.

Dalam hal ini sutradara menerapkan siasat keliru, seperti diungkapkan dalam dialog dengan penonton usai pementasan. Sutradara mengaku sengaja melakukan bloking vertikal karena ingin mengacaukan konsentrasi penonton untuk di bawa ke dalam fokus yang dianggapnya lebih penting pada akhir pementasan. Tapi sutradara tak berpikir, bagaimana kalau penonton keburu beranjak dari tempat duduk sebelum sempat menyaksikan adegan terakhir? (Adyana Ole)

HU Bali Pos, 28 September 2003

Potret Sosial "Variasi Parijs Van Java"

Oleh LUKMAN ASYA

Sabda Goldmann (1973) dalam konteks pembacaan sosiologi sastra saya jadikan sebagai kerangka sandaran dan acuan dalam melakukan pembacaan terhadap puisi Soni Farid Maulana dalam konteks sosial yang berdasarkan pada fakta-fakta historis.

Puisi Soni itu terdiri dari 54 bait dan 183 larik, berjudul Variasi Parijs van Java, terdapat dalam antologi puisi Variasi Parijs van Java (Kiblat, cetakan 1, Februari 2004). Soni Farid Maulana tidaklah seorang diri dalam menyoal Bandung sebagai Parijs van Java. Proses trans-individualnya sebagai subyek lirik yang cermat "berdialektika" dengan lingkungan sosialnya antara kesadaran humanisme dan gempuran pembangunanisme-sebagai tangan kanan kekuasaan-begitu industrialistik.

Tempo doeloe, Ramadhan KH pernah menyoal lingkup Kota Bandung secara narsistik melankolik dalam puisi-puisinya yang terkumpul dalam antologi puisi Priangan Si Jelita. Di sana digambarkan suatu kondisi alam yang elok, sawah-sawah yang menerbitkan rasa damai, pegunungan-pegunungan yang indah, dan hawa udara yang sejuk. Kemakmuran dan kegemburan menjadi tanda dan petanda.

Gambaran alam sosial yang dilukiskan Ramadhan KH itu memang tinggal kenangan. Faktanya, kini telah banyak terjadi perubahan. Fakta itu diperkuat suatu varian pandangan dan pembacaan Soni sebagai penyair dalam puisinya tentang Parijs van Java. Bahkan kenangan alam yang elok itu kini cuma kekal di "buku-buku tua". Salah satu buku yang mengekalkannya adalah yang ditulis Haryanto Kunto, Bandung Tempo Doeloe. Di buku itu segala peristiwa dan keadaan menjadi semacam resminisensi.

Terkontaminasi ambisi

Sebagai penyair terlibat, Soni Farid Maulana adalah subyek lirik yang gundah, menohok langsung kondisi Bandung yang kini sudah terkontaminasi ambisi, nafsu, dan mabuk kekuasaan sehingga Bandung telah kehilangan keparijs-van-javaannya.

Bandung menjadi kota yang penuh gedung-gedung dan mal-mal tanpa memperhitungkan keindahan arsitekturnya. Bandung menjadi bukan si jelita lagi akibat suatu pola kebijakan. Bandung menjadi mirip janda setengah baya dengan jerawat dan bercak-bercak yang tumbuh di wajah dan badan.

Kondisi sosial dapat memengaruhi alam kesadaran manusia. Manusia di satu pihak adalah yang menyebabkan kondisi itu, dan di pihak lain adalah akibat yang mengandung "warna dan goresan hitam maupun putih" sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya dalam tingkatan status sosial.

Kondisi dan suasana yang telah berubah itu dapat menyeret manusia sebagai makhluk sosial ke dalam anxiety, suatu kondisi kecemasan yang impasse. Manusia terkepung antara pembangunanisme dan susahnya mengendalikan diri karena kondisi itu seakan diplot oleh angkuhnya kekuasaan dan kebijakan yang tak memperhitungkan ruang- ruang publik.

Lebih jauh, Soni dalam puisinya itu mengajak pembaca untuk membuka mata batin bahwa perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri memang menyisakan harapan dan kecemasan. Harapan mempertahankan tradisi agraristik ternyata bukan sesuatu yang mudah manakala tangan-tangan industri begitu angkuh mengajak untuk ikut serta dalam perubahan. Kita dapat merasakan getaran perubahan dalam bait puisi berikut ini, yang melanda tatanan sosial kemanusiaan. "...Dari Cimahi hingga Cileunyi/ masihkah si Leungli jadi pengantar/ tidur anak-anak? Kau bilang Doraemon/ melahap kepala dan ekornya yang gurih// sedang badannya disantap Superman,/ Tom & Jerry, dan Asterix dalam jamuan/ hiburan anak-anak, lewat saluran televisi/ kau dengar desah nafas Lutung Kasarung// dari tumpukan buku-buku tua,/ kotor, dan berdebu? Dari malam ke malam/ Parahyangan mengalun dalam irama// kota besar, disungkup bayang-bayang/ tajam pisau orang-orang lapar/ gentayangan sepanjang jam berputar...".(bait 13, 14, 15, dan 16).

Kian sumpek

Soni Farid Maulana sebagai yang hidup dan menghidupi Kota Bandung tentu dengan segala keinsafannya sebagai penyair telah memergoki kondisi lingkungan sosial Kota Bandung yang konsumtif dan kian sumpek saja, yang membuat dirinya mengalami kegundahan. "...Lewat Cigondewah genangan air,/ jalan berlobang sehabis hujan, adalah potret dunia ketiga. Hijau pesawahan diusir perumahan/ kicau burung-burung hanya patahan huruf// dicetak dalam buku cerita kanak- kanak. Begitulah,/ lewat Cihampelas, kicau burung-burung di antara/ rimbun pepohonan sudah lama pergi diusir gelegar/ pengeras suara yang dihuni lagu dangdut, rock,// dan jazz dari jajaran pertokoan yang menjual/ jeans dan kaos oblong. Kota Kembang, di manakah/ taman bunga? Ah, hanya mawar hitam yang// bermekaran sepanjang malam di ruas-ruas/ jantung kota. Selebihnya alir Cikapundung, bukan alun Seine di bawah le pont Mirabeau// antara Patenggang-Jayagiri// masihkah nyanyian alam dilantunkan/ desau rumputan, risik dedauanan/ dan suara-suara serangga malam?// antara Dayeuh Kolot-Cimahi dan Cileunyi/ masihkah geletar udara segar/ bagai sehampar hijau daun padi dimainkan/ angin? Masihkah pemilik negeri ini// rakyat yang ramah, saling sapa/ dengan senyum dan salam? Siapakah/ yang mengetuk pintu digelap malam// seradak-seruduk bagai babi hutan/ menyikat lahan orang? 'mabuk lagi, ah. Mabuk lagi...' Amis darah sengit sudah// di gelap malam aku mendengar/ Harry Roesli memetik gitar dan tersedu/ 'jangan menangis Indonesia,' katanya. Parahyangan/ bermantel kabut, dingin bagai raga tanpa nyawa// dari Cicaheum, Kebon Kalapa, hingga Leuwipanjang/ aku mendengar lagu orang-orang pinggiran dilantunkan/ tiang listrik dan warung kaki lima; negeri ini milik siapa?/ tajam belati tak puas-puasnya nenggak berlabu darah// sedang di pusat kota hiburan malam/ digelar orang dalam bangunan beton dan baja,//...." (bait 17-27).

Bandung sebagai kota belakangan ini ditengarai oleh suatu kebijakan pemerintah kota yang mencanangkan Bandung sebagai kota bunga. Secara kinematik niatan pemerintah kota itu secara serius berarti keinsafan dan kesadaran dalam melaksanakan falsafah "Bandung bersih, hijau, berbunga" yang pada akhirnya tidak menjadi sekadar plang penghias jalan di antara reklame-reklame iklan.

Kebijakan pemerintah kota itu sebagai niatan yang insya Allah mendatangkan berkah dan kebaikan sosial. Mengembalikan Bandung kepada martabat semula sebagai Parijs Van Java yang berbunga adalah cita-cita yang perlu mulai direspons oleh kesadaran semua pihak dan perlu didukung oleh arah kebijakan lainnya yang memungkinkan Bandung kian tertata.

Kesimpulannya, via puisi Variasi Parijs van Java yang ditulis penyair Soni Farid Maulana, kita dapat merasakan ihwal keberlangsungan Bandung dalam konteks humanitas dan sosial, di mana etos kesunyataan puisi sang penyair Soni adalah motif kesungguhan yang mengandung berkah. Berkah puisi di atas adalah hadirnya spirit dan inspirasi untuk reorientasi menciptakan suatu tatanan lingkungan dan kehidupan sosial yang lebih baik, menuju hari yang akan datang, di mana anak cucu tumbuh dengan kondisi lingkungan yang terjaga dan lestari. Mungkinkah?

LUKMAN ASYA Mantan Ketua Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS) Universitas Pendidikan Indonesia
HU Kompas Jawa Barat, Selasa, 12 September 2006

Soni dan ”Secangkir Teh”

Judul Buku: Secangkir Teh
Penulis: Soni Farid Maulana
Kata Penutup: Yasraf Amir Piliang
Tebal: ix + 151 Halaman
Cetakan I: 2005
Penerbit: PT Grasindo, Jakarta

Oleh FLORA AGUSTIN

DALAM kata penutup antologi puisi "Secangkir Teh," Yasraf Amir Piliang menulis, puisi-puisi Soni Farid Maulana di dalam kumpulan "Secangkir Teh" ini, sarat dengan ajakan refleksi dan kontemplasi, yaitu ajakan memahami makna hidup, di dalam dunia masa kini yang semakin jauh dari tanda-tanda ketuhanan. Pintu gerbang yang dimasuki Soni dalam memahami jejak-jejak ketuhanan adalah pintu gerbang cinta, dalam pengertiannya yang paling luas. Cinta merupakan kekuatan puisi Soni, dalam pengertian bahwa melalui metafora-metafora cinta dalam cakrawala yang luas itu, makna-makna religiusitas dapat dihayati secara mendalam.

Tema religius dalam pengertian yang luas dalam konteks cinta, memang merupakan tema puisi garapan penyair Soni Farid Maulana. Pengamat sastra Korrie Layun Rampan dalam bukunya Angkatan 2000: Dalam Sastra Indonesia (Grasindo, 2000) juga mengatakan hal yang sama. Ini artinya, jejak-jejak religiusitas di dalam puisi-puisi Soni bisa dibaca dengan jelas, dan bahkan bisa dilacak sejak ia menulis puisi pada tahun 1976 lalu.

Soni Farid Maulana adalah penyair yang pada masa pertumbuhannya dibesarkan oleh HU Pikiran Rakyat, lewat rubrik ”Pertemuan Kecil” yang diasuh oleh Saini KM pada awal tahun 1980-an hingga awal tahun 1990-an. Selain Soni, dua kumpulan puisi sebelumnya dari Bandung yang diterbitkan oleh Grasindo adalah Saini KM lewat antologi puisi Nyanyian Tanah Air (2000) dan Acep Zamzam Noor dengan antologi puisi Jalan Menuju Rumahmu (2004). Pada tahun 2005 buku puisi Acep tersebut mendapat aungerah SEA Write Award dari Kerajaan Thailand dan juga hadiah sastra dari Pusat Bahasa, di Jakarta.

Jika Yasraf Amir Piliang mengatakan bahwa tema cinta merupakan kekuatan puisi Soni, persoalan cinta yang terdapat di dalamnya jauh dari kesan erotis dan vulgar. Yang hadir justru kesan romantis dan bahkan mistis seperti dalam sebuah puisinya di bawah ini, yang diberi judul ”Parfum Maut” (1987). Isi dari puisi tersebut berbunyi: di atas ranjangmu aku berbaring/angin dingin berhembus/menaburkan mimpi hitam kota besar/seketika bagai kucing lapar dan liar//kau terkam tubuhku tanpa ampun/malam ngalir ke jantungku/bagai cairan infus; dan engkau mengeluh/saat lolong anjing menyeruak dari dasar kuburan.//”apa yang terjadi, apa yang tengah terjadi?/parfum maut yang kuambung/mendesak kita ke arah yang kelam?”//ranjang hanya sunyi. Endapan duka/mengental di dasar jiwa/bergetah sepi//.

Kekuatan cinta yang ditulis dalam puisi-puisinya ini, tidak hanya membayang dalam sejumlah puisi yang bernuansa mistis, tetapi juga membayang dalam sejumlah puisi lainnya, baik yang bersinggungan dengan masalah sosial, religius, dan bahkan maut. Semua itu bisa ditangkap dengan mudah — karena Soni dalam menulis puisi-puisinya tidak menggunakan kata-kata maupun daya ungkap yang rumit. Ia menulis dengan cara yang sederhana. Namun demikian makna yang dikandung di dalam puisi-puisinya tidak sesederhana apa yang ditulisnya.

Pengamat sastra Prof. Dr. Suminto A. Sayuti mengatakan bahwa lirisisme dalam karya-karya Soni cenderung menggapai makna ke-aku-an, tetapi tetap dalam modus ke-kita-an, yakni kebersamaan antara aku dan kau, I and Thou dalam istilah Martin Buber.

Diksi kau dan aku dalam puisi-puisinya ini memang hadir dengan posisi yang tidak hanya merujuk pada aku dengan a huruf kecil, tetapi juga Aku dengan a huruf kapital. Karena itu tak aneh kalau Prof. Dr. Suminto A. Sayuti dalam membaca puisi-puisi Soni Farid Maulana harus masuk ke rimba filsafat Barat dengan menjenguk Martin Buber sebagai bahan rujukannya.

Di dalam antologi ini, Soni menulis juga sejumlah puisi dengan latar belakang luar negeri. Sejumlah puisinya yang bertema musim dingin, baik mengenai Paris, Den Haag, Leiden, dan sejumlah tempat lainnya di Eropa — telah memberikan sebuah pengalaman baru, tentang kerinduan dan keterasingan yang bergaung di dalam batinnya. Dua puisi yang cukup menggetar antara lain berjudul Di Negeri Salju yang didedikasikan kepada Rendra, dan Berjalan di Pinggir Sungai Seine yang dipersembahkan kepada kekasihnya tercinta, Heni Hendrayani. Kedua puisi tersebut ditulis pada tahun 1999. Pada tahun itu, Soni memang berkesempatan ke luar negeri, ke Belanda, mengikuti Festival de Winternachten bersama Rendra, yang setelah itu dilanjutkan ke Paris. Di dalam puisi-puisinya, tema cinta hadir pula dalam konteks sosial-politik yang pedih, yang berkait erat dengan ingatan-ingatannya yang menukik ke tanah air.

Paling tidak, membaca antologi puisi "Secangkir Teh" yang ditulis sepanjang 1982-2004 adalah membaca panorama batin Soni Farid Maulana dalam menulis puisi. Sebagai penyair, Soni tidak hanya dikenal di Indonesia saja. Tetapi juga di luar negeri. Ia telah mampu menempatkan dirinya dalam sebuah wilayah yang dikenal orang. Bahwa apa yang ditulisnya terasa ada kekurangan atau kelebihan, adalah suatu yang wajar. Saya yakin, Soni tidak akan puas hanya dengan Secangkir Teh. Ia pasti telah menyiapkan sejumlah puisi lainnya. Rendra bilang, Soni adalah penyair yang berkembang dengan pesat, yang terus mencari kesempurnaan pengucapan bagi puisi-puisi yang tengah ditulisnya.***

Penulis penikmat sastra.


Senin, 09 Januari 2006, HU Pikiran Rakyat

Finalis Khatulistiwa Literary Award 2005-2006

Prosa :

1. "Foto dan Senggring" (Budi Darma)
2. "Kincir Api" (Kurnia Effendi)
3. "Mandi Api" (Gde Aryatha S)
4. "Ular Keempat" (Gus tf)
5. "Filosofi Kopi" (Dee Lestari)

Puisi :

1. "Daging Akar" (Gus tf)
2. "Semua Telah Berubah, Tuan" (Juniarso Ridwan)
3. "Sehampar Kabut" (Soni Farid Maulana)
4. "Seorang Pejalan dari Hadrami" ( Jefry Alkatiri)
5. "Meditasi di Borobudur (Urip)"
6. "Santa Rosa"(Dorothea Rosa Herliany)

Pemenang Khatulistiwa Literary Award 2005-2006

Prosa: "Mandi Api" (Gde Aryatha S).
Puisi: "Santa Rosa" (Dorothea Rosa Herliany)

International Literary Biennale 2005

26 Agustus 2005 - 03 September 2005

Prolog

International Literary Biennale 2005 ini merupakan program lanjutan dan perluasan dari dua festival yang sebelumnya telah diselenggarakan Komunitas Utan Kayu, yakni Internasional Poetry Festival (2001) dan International Literary Festival (2003). Ketiga festival yang nyaris serupa ini menggunakan nama yang terus berganti, menandaskan keberlanjutan sebuah proses, bahwa setiap event merupakan tahap belajar yang belum final. Sungguh membahagiakan bahwa festival sastra bertaraf internasional—sebuah kesederhanaan yang ‘mewah’ dan tidak mudah—untuk ketiga kalinya dapat terselenggara di Indonesia.

Mulai sekarang kami menyebut festival ini sebagai ‘International Literary Biennale’ dengan sejumlah alasan. Pertama, ketiga festival secara kontinyu terjadi setiap dua tahun sekali. Kedua, terjadinya perluasan genre; yang semula hanya puisi, kini merambah ke prosa dan drama. Festival ini pun tidak hanya mengusung karya dan penulis dari khasanah sastra modern, melainkan juga—dalam porsi yang terbatas—menyelipkan tradisi lisan yang nyaris punah. Ketiga, penyelenggaraan dua festival sebelumnya telah menjadi pelajaran berharga yang menguatkan keyakinan dan meningkatkan kesanggupan kami untuk melaksanakan festival keempat pada tahun 2007 nanti.

Pelbagai faktor dari luar wilayah sastra kadang menjadi hambatan. Salah satunya adalah isu terorisme. Pada festival lalu, sejumlah calon peserta membatalkan kesertaannya setelah bom meledak di sebuah hotel di Jakarta. Terorisme yang acap dikaitkan dengan dunia Islam pun turut menyumbang kesan yang kurang menguntungkan: Indonesia bukan tempat yang aman. Prasangka semacam itu justru makin meneguhkan niat kami untuk tidak berhenti mewujudkan festival ini. Adanya beragam faktor yang memengaruhi hanya menandaskan bahwa sesungguhnya sastra tidak pernah sendiri.

Kami sadar, Indonesia bukan negara yang bebas dari konflik internasional. Banyak persoalan di dalam dan di luar negeri telah pula melibatkan Indonesia ke dalam ketegangan dunia. Perebutan pulau-pulau kecil di dekat perbatasan Indonesia-Malaysia, kenangan buram yang berkaitan dengan Timor Leste, jalinan kemesraan dan kecurigaan Indonesia-Australia, juga konflik di Aceh dan Papua yang menjadi percaturan politik di Eropa dan Amerika.

Sebab itu, melalui festival ini, kami mengundang para penulis—para penjaga hati nurani—bukan saja dari negara tetangga terdekat, melainkan juga dari wilayah-wilayah jauh, agar di luar carut-marut politik, sejumlah warga dari pelbagai bangsa tetap bisa bersahabat dengan mesra., saling mengetahui dan saling memahami, tanpa rasa takut dan prasangka buruk.

Memilih tema Living Together, festival ini dimaksudkan sebagai sarana penggalian makna esensial yang terkandung di dalam sastra, yakni upaya memahami keberadaan manusia dan semestanya. Betapapun kecil dan sayup, semoga suara festival ini menjadi bagian dari gema kebudayaan yang berdaya bujuk mengeratkan hubungan antar masyarakat yang beradab, karena di dalam sastra kita melihat harapan: persahabatan antar-manusia lintas ideologi, agama, dan bangsa. Sebuah angan yang indah dan tak mudah.

Tidak mudah karena banyak orang, termasuk yang berpendidikan dan bergerak di bidang kebudayaan, tak terkecuali dari negara-negara yang mengaku punya tingkat keberadaban tinggi, belum memandang sastra sebagai prioritas dalam pergaulan antar-manusia dan antar-bangsa. Dari sekitar 20 perwakilan negara dan pusat kebudayaan asing yang kami ajak serta, sebagian besar tidak memberikan tanggapan yang membahagiakan. Kami menghargai segala alasan dan sikap mereka.
Terima kasih sebesar-besarnya kepada Prince Claus Foundation, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, Selasar Sunaryo Art Space, Komunitas Rumah Panggung, Australia-Indonesia Institute, dan Winternachten. Tanpa dukungan mereka, festival ini muskil terselenggara. Terima kasih juga kepada para penulis yang dengan senang hati bersedia berbagi, juga kepada semua pihak yang memberikan bantuan namun tak tersebutkan. Semoga niat baik dan kerja kita tidak menguap sia-sia.

Salam,

Sitok Srengenge,
Direktur International Literary Biennale 2005.

International Literary Biennale 2005
Performance Schedule

Bandung 26 August 2005

20.00 – 20.10 : Opening Music, KeTUK Group
20.10 – 20.20 : Speech: Goenawan Mohamad & Sunaryo
20.20 – 20.30 : Soni Farid Maulana
20.30 – 20.40 : Abe Barreto Soares
20.40 – 20.50 : Nur Wahida Idris
20.50 – 21.00 : Frank Martinus Arion
21.00 – 21.10 : Eka Kurniawan
21.10 – 21.20 : Ramsey Nasr
21.20 – 21.30 : Kurnia Effendi
21.30 – 21.40 : Lauren William
21.40 – 21.50 : Closing Music, KeTUK Group

Bandung 27 August 2005

20.00 – 20.10 : Opening Music, KeTUK Group
20.10 – 20.20 : Mona Sylviana
20.20 – 20.30 : A.S. Laksana
20.30 – 20.40 : Ellen Ombre
20.40 – 20.50 : Saini K.M.
20.50 – 21.00 : H.U. Mardi Luhung
21.00 – 21.10 : Antjie Krog
21.10 – 21.20 : Godi Suwarna
21.20 – 21.30 : Jan Cornall
21.30 – 21.40 : Closing Music, KeTUK Group


International Literary Biennale 2005

Performance Schedule

Lampung 29 August 2005

20.00 – 20.10 : Opening, Oral Literary Tradition, Masnunah
20.10 – 20.20 : Speech: Nirwan Dewanto & Iswadi Pratama
20.20 – 20.30 : Isbedy Stiawan ZS
20.30 – 20.40 : Ramsey Nasr
20.40 – 20.50 : Dinar Rahayu
20.50 – 21.00 : Frank Martinus Arion
21.00 – 21.10 : Shinta Febriany
21.10 – 21.20 : Antjie Krog
21.20 – 21.30 : Marhalim Zaini
21.30 – 21.40 : Lauren William
21.40 – 21.50 : Closing, Oral Literary Tradition, Masnunah

Lampung 30 August 2005

20.00 – 20.10 : Opening,
20.10 – 20.20 : Jimmy Maruli Alfian
20.20 – 20.30 : Ramsey Nasr
20.30 – 20.40 : Abe Barreto Soares
20.40 – 20.50 : Martin Aleida
20.50 – 21.00 : Ellen Ombre
21.00 – 21.10 : Inggit Putria Marga
21.10 – 21.20 : Frank Martinus Arion
21.20 – 21.30 : Lauren William
21.30 – 21.40 : Tan Lioe Ie
21.40 – 21.50 : Jan Cornall
21.50 – 22.00 : Closing


Jakarta 1 September 2005

20.00 – 20.10 : Opening, Teater Mandiri
20.10 – 20.20 : Speech: Sitok Srengenge & Ton van de Langkruis
20.20 – 20.30 : Afrizal Malna
20.30 – 20.40 : Ellen Ombre
20.40 – 20.50 : Azhari
20.50 – 21.00 : Antjie Krog
21.00 – 21.10 : Hamsad Rangkuti
21.10 – 21.20 : Jan Cornall
21.20 – 21.30 : Gunawan Maryanto
21.30 – 21.40 : Lauren William

Jakarta 2 September 2005

20.00 – 20.10 : Opening Music
20.10 – 20.20 : Radhar Panca Dahana
20.20 – 20.30 : Ramsey Nasr
20.30 – 20.40 : Budi Darma
20.40 – 20.50 : Abe Barreto Soares
20.50 – 21.00 : Arswendo Atmowiloto
21.00 – 21.10 : Frank Martinus Arion
21.10 – 21.20 : N. Riantiarno
21.20 – 21.30 : Antjie Krog
21.30 – 21.40 : Closing Music

Jakarta 3 September 2005

20.00 – 20.10 : Opening Music
20.10 – 20.20 : Iswadi Pratama
20.20 – 20.30 : Ellen Ombre
20.30 – 20.40 : Abe Barreto Soares
20.40 – 20.50 : Dewi Lestari
20.50 – 21.00 : Ramsey Nasr
21.00 – 21.10 : Frank Martinus Arion
21.10 – 21.20 : Landung Simatupang
21.20 – 21.30 : Jan Cornall
21.30 – 21.40 : Closing Music

Bandung & ”Biennale Sastra Internasional 2005”

Oleh SONI FARID MAULANA

DIAKUI atau tidak, Bandung mempunyai peran yang cukup penting dalam perkembangan dan pertumbuhan sastra Indonesia, khususnya dalam bidang puisi. Hal itu tidak hanya terlihat dari munculnya berbagai aktivitas yang menggemparkan di tahun 1970-an, seperti diselenggarakannya acara "Pengadilan Puisi" yang melambungkan nama penyair Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi W.M., serta munculnya gerakan puisi mBeling yang digagas oleh penyair Remy Silado dan Jeihan Sukmantoro, tetapi juga jauh sebelumnya, penyair Saini KM sudah aktif mengadakan kegiatan penyemaian benih para penulis puisi lewat rubrik Kuntum Mekar, dan Pertemuan Kecil. Kedua rubrik yang diasuhnya itu ada di HU Pikiran Rakyat.

Dari generasi ke generasinya kegiatan puisi di Bandung tak putus-putusnya diselenggarakan orang. Forum demi forum sastra pun bermunculan. Dalam sastra Indonesia antara lain, lahir Komunitas Swawedar digagas oleh Anton D. Sumartana, Kelompok Pengarang Bandung (KPB) digagas oleh Diro Aritonang, Yessi Anwar dan Beni Setia, Kelompok Sepuluh digagas oleh Moh. Ridlo 'Eisy dan Herry Dim, serta Forum Sastra Bandung (FSB) digagas oleh Juniarso Ridwan, almarhum Sanento Yuliman, dan Agus R. Sardjono. Di luar itu, tentu saja masih ada kelompok-kelompok lainnya yang digarap oleh para mahasiswa di kampus-kampus, seperti Group Apresiasi Sastra (GAS) ITB, yang terkenal pada zamannya, melahirkan gerakan puisi bebas yang menggemparkan itu. Gerakan ini, setidaknya merupakan jawaban atas gerakan puisi konkret yang digagas oleh Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, dan Abdul Hadi W.M., yang digelar di TIM, Jakarta pada tahun 1970-an.

Tentu saja, apa yang berkembang di Bandung dalam bidang sastra itu, tidak hanya dalam bidang sastra Indonesia saja. Sastra Sunda pun tumbuh dengan sejarahnya sendiri. Kadang para sastrawannya, selain menulis karya sastra dalam bahasa Sunda, juga menulis dalam bahasa Indonesia. Adanya kenyataan semacam ini, memberikan satu bukti bahwa kehidupan sastra di Bandung selalu hangat dialog, meski pada akhirnya dialog itu pada sisi-sisi tertentu tidak selalu dibuka di ruang publik.

Paling tidak, itulah sekilas tentang kegiatan sastra di Bandung, khususnya dalam bidang puisi Indonesia sejak pertengahan tahun 1960-an hingga akhir tahun 1990-an. Pada awal tahun 2000, lebih tepatnya pada tahun 2002, Rendra memandang penting Kota Bandung sebagai kota yang hidup dalam kegiatan puisi. Untuk itu, ia tidak ragu pada tahun itu memilih Kota Bandung sebagai salah satu kota yang menggelar acara Puisi International Indonesia (PII), yakni sebuah acara festival puisi internasional, yang mendatangkan sejumlah penyair dari Belanda, Jerman, Malaysia, dan Indonesia. Acara ini selain digelar di Bandung, juga digelar di Solo dan Makassar.

"Digelarnya acara PII di Kota Bandung, karena apresiasi puisi cukup hidup. Adanya kelompok-kelompok sastra, seperti Forum Sastra Bandung (FSB) telah memberikan warna tersendiri bagi perkembangan dan pertumbuhan sastra itu sendiri, seperti apa yang sudah ditunjukkan lewat penerbitan buku-buku puisi yang diproduksinya. Dari Bandung ada banyak penyair dari generasi kemudian yang pertumbuhannya cukup menggembirakan," ujar Rendra pada saat itu.

**

Memasuki tahun 2005, Komunitas Utan Kayu (KUK) memandang penting hadirnya Kota Bandung dalam jagat puisi Indonesia dewasa ini. Pada 26-27 Agustus 2005 mendatang, kalau tidak ada aral melintang, KUK memilih Selasar Sunaryo Art Space sebagai tempat acara "Biennale Sastra Internasional Utan Kayu 2005" yang diberi tema Living Together.

"Diselenggarakannya festival sastra berskala internasional ini dimaksudkan untuk mewujudkan makna esensial yang terkandung di dalam sastra, yakni upaya memahami keberadaan manusia dan semestanya. Dengan mengambil tema Living Together (hidup bersama), dimaksudkan festival ini menjadi upaya perluasan dari pemahaman tadi. Sebab, tak seorang pun di dunia ini bisa hidup sendiri. Saling ketergantungan antarmanusia akan menjelma kerja sama yang seimbang, harmonis, dan indah, apabila masing-masing pihak memiliki pemahaman dan kesetaraan. Sastra mempunyai tenaga yang besar untuk mengeratkan interaksi antarmasyarakat yang beradab karena sastra merupakan salah satu bentuk ekspresi manusiawi yang murni dan berdaya jangkau lintas ideologi, agama dan bangsa," jelas Sitok Srengenge, Direktur Pelaksana Utan Kayu International Literary Biennale 2005, dalam surat elektroniknya.

"Pada 2005, program ini akan diadakan di 3 kota di Indonesia, dengan mengundang berbagai ragam penyair dan penulis dari Indonesia serta dari lingkup internasional. Festival akan berlangsung di Bandung (Jawa Barat) dan Lampung, (Sumatra Barat) sebelum diakhiri di Jakarta. Di Lampung, Komunitas Utan Kayu akan bekerja sama dengan Komunitas Rumah Panggung dan di Bandung dengan Selasar Sunaryo Art Space. Sebagaimana festival sebelumnya, Winternachten Oversee akan berperan serta. KUK bekerja sama dengan sejumlah kedutaan besar dan pusat-pusat kebudayaan untuk mendatangkan penulis-penulis dan penyair Internasional ke Indonesia. Semua karya yang dibacakan akan diterjemahkan dan hasilnya akan ditampilkan melalui layar proyektor sepanjang pementasan, serta akan diterbitkan dalam buku kecil untuk para penonton," jelasnya dalam kesempatan yang lain, dalam percakapannya dengan penulis beberapa waktu lalu di CCF de Bandung.

Untuk pertama kalinya, katanya lebih lanjut, acara tersebut digelar KUK pada tahun 2001. Sejumlah penulis dan penyair dari Indonesia dan sembilan dari mancanegara mengadakan pementasan di Jakarta dan Yogyakarta. Program tahun 2001 ini merupakan kolaborasi antara KUK dan Winternachten, Den Haag Belanda. Pada tiap lokasi, para peserta menampilkan pembacaan dinamis karya mereka dan melakukan diskusi dengan penonton/audiens. Karya dari penulis asing diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk penonton dan ditampilkan melalui layar proyektor pada saat mereka membacakan karya. Demikian pula sebaliknya. Satu buku kumpulan karya yang dibacakan selama festival diberikan kepada tiap hadirin dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris.

Sukses dengan acara tersebut, dua tahun berikutnya, KUK mengadakan acara serupa dengan partisipasi dari Winternachten dan Vienna Poetry School, Austria. Pada tahun itu festival sastra berlangsung di tiga kota, Denpasar, Solo, dan Jakarta. Pada 2003 Festival ini menampilkan sebagian dari karya sastra dan puisi terbaik dari Indonesia, meliputi penulis dan penyair terkemuka seperti Sapardi Djoko Damono dan Putu Wijaya juga para pendatang baru yang penting. Peserta dari luar Indonesia datang dari Afrika Selatan, Belanda, Suriname, Kepulauan Antilles, Jerman, Austria, dan Malaysia. Sekali lagi, semua karya para peserta diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau Indonesia dan ditampilkan ke layar proyektor di belakang para peserta yang melakukan pementasan dan diterbitkan dalam sebuah buku kecil untuk penonton.

Adapun para sastrawan yang akan tampil di Bandung (26 - 27 Agustus 2005) adalah, A.S. Laksana, Saini KM, Nur Wahida Idris, H.U. Mardiluhung, Mona Sylviana, Eka Kurniawan, Soni Farid Maulana, Godi Suwarna dan Kurnia Effendi. Di Lampung (29- 30 Agustus 2005), Marhalim Zaini, Inggit Putria Marga, Isbedy Stiawan ZS, Jimmy Maruli Alfian, Tan Lioe Ie, Dinar Rahayu, Martin Aleida, dan Shinta Febriany. Di akarta (1- 3 September 2005), Teater Mandiri, Azhari, Iswadi Pratama, Gunawan Maryanto, Afrizal Malna, Dewi Lestari, Landung Simatupang, Arswendo Atmowiloto, Budi Darma, N.Riantiarno, dan Hamsad Rangkuti. Sedangkan para penyair asing yang akan hadir di tiga kota tersebut ada delapan orang. Beberapa di antaranya yang sudah konfirmasi adalah penyair Frank Martinus Arion (Curagao - Netherlands Antilles) Ramsey Nasr (Netherlands), Antjie Krog (South-Africa), Ellen Ombre (Suriname/Netherlands), dan wakil dari Winternachten adalah Wilma Scheffers, Ton van de Langkruis (Netherlands) serta Music-programmer Francis de Souza. "Selain mereka masih ada penyair-penyair lainnya seperti dari Australia dan beberapa negara lainnya. Mereka masih dalam konfirmasi," jelas Wikan, dalam surat elektroniknya, salah seorang panitia acara tersebut.

**

LEPAS dari semua itu, digelarnya acara-acara sastra berskala nasional maupun internasional di Bandung, setidaknya mempunyai arti yang cukup penting bagi para apresiator puisi yang ingin mendengarkan secara langsung bagaimana para penyair membacakan puisi-puisi yang ditulisnya dengan gayanya yang khas dan memikat. Dalam Puisi International Indonesia yang digelar di Bandung pada tahun 2002 lalu itu, penampilan penyair Hamid Jabbar almarhum dan Godi Suwarna benar-benar memikat perhatian, bukan karena disebabkan puisi yang ditulis oleh kedua penyair tersebut menarik, tetapi juga oleh warna vokal mereka serta cara penghayatannya dalam mengekspresikan setiap larik demi larik puisi yang dibacanya di atas pentas. Rendra sendiri pada saat itu lebih menahan diri untuk tampil ekspresif. Ia justru tampil apa adanya, namun terasa kontemplatif ketika ia membacakan beberapa puisi terjemahan dari para penyair Belanda atau Jerman.

Ketika puisi-puisi itu dibacakan dengan vokal yang jernih, kata-kata yang didengar oleh para apresiatornya seringkali bertaut dengan sejumlah kenangan yang mendadak muncul dalam benak mereka. Untuk itu, puisi sekalipun ia berupa sebuah dunia yang privat, nyatanya selalu menyisakan semacam celah, bagi seseorang atau siapa pun untuk masuk ke dalamnya, berasyikmasyuk di situ, apa pun makna yang didapatnya.

Lantas Winternachten Oversee itu apa? Ia adalah semacam lembaga kesenian yang didirikan oleh sejumlah seniman dan aktivis seni di Belanda, yang setiap tahunnya menyelenggarakan acara Festival de Winternachten baik yang digelar di Den Haag Belanda, atau di beberapa negara lainnya, yang dulunya punya kaitan erat dengan sejarah Belanda, khususnya negara-negara bekas jajahan Belanda. Acara yang digelar dalam festival tersebut tidak hanya melulu menggelar karya sastra, tetapi juga menampilkan pertunjukan musik, teater, dan juga musik. Sejumlah seniman Indonesia banyak sudah yang diundang ke sana, termasuk beberapa seniman dari Bandung, seperti Nenden Lilis A, Acep Zamzam Noor, dan A. Rahmaiani.

Adapun Komunitas Utan Kayu (KUK), ia adalah sebuah pusat kebudayaan swasta yang memulai aktivitasnya sejak 1993. Pada masa Orde Baru, ia merupakan pusat perlawanan terhadap rezim militer Presiden Soeharto. Kegiatan-kegiatan budaya pada masa itu berfungsi sebagai pengalihan atau kamuflase dari aktivitas-aktivitas politik ISAI (Institut Studi Arus Informasi), yang disamarkan dengan membangun gedung galeri seni Komunitas Utan Kayu. Meskipun Orde Baru telah berakhir, tekanan dan intimidasi masih terus berlangsung.

Dalam menjalankan programnya, KUK bekerja untuk mencapai masyarakat Indonesia yang lebih terbuka, bukan hanya di Jakarta, tetapi juga di kota-kota lain melalui kerja sama yang bersifat semi otonom dengan pusat-pusat kesenian yang ditujukan untuk mengembangkan kebebasan berekspresi di luar ibu kota.

Selain menggelar Biennal Sastra International, KUK juga akan bekerja sama dengan Prince Claus Fund untuk menyelenggarakan Festival Wayang Internasional (April 2006), Festival Film Pendek(September 2006), dan juga Bienal Sastra Internasional yang keempat (Agustus 2007), serta akan menerbitkan edisi khusus jurnal Prince Claus dengan tema Living Together, sesuai dengan tema Bienal Sastra 2005.***

Sabtu, 09 Juli 2005, HU Pikiran Rakyat